Sabtu, 24 Agustus 2019

Mahasiswa ITS Belajar Pecahkan Masalah Lalu Lintas Lewat GPBL


Mahasiswa Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berkesempatan mengikuti ajang Global Project Based Learning (GPBL) yang diadakan Shibaura Institute of Technology (SIT), Jepang. Dalam program yang digelar selama 10 hari tersebut, mhasiswa bernama Dhiya Aldifa Ulhaq tersebut berupaya memberikan solusi guna meningkatkan keselamatan lalu lintas dengan memanfaatkan probe data.


Mimpi yang dirajutnya sejak duduk di bangku SMA ini akhirnya terwujud usai mendaftarkan diri pada program GPBL. Selain tertarik dengan course program yang ditawarkan, iming-iming beasiswa dari Japan Student Services Organization (JASSO) turut menguatkan langkahnya. “Alhamdulillah proses pendaftarannya lancar, bisa lolos dan berangkat ke Jepang,” tuturnya.

Mahasiswa yang kerap disapa Aldi ini menuturkan, program GPBL sendiri bertujuan mengasah kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir inovatif peserta. Terdapat berbagai perusahaan Jepang, seperti Ricoh, Toshiba, Smith & Nephew, Kanepackage, serta perwakilan dari Prefektur Saitama dan Tochigi yang menjelaskan permasalahan yang mereka hadapi saat ini. “Totalnya ada 12 permasalahan yang harus diselesaikan oleh 12 kelompok dan harus diselesaikan selama sembilan hari,” tambah mahasiswa angkatan 2016 tersebut.

Berbekal riset dari internet, statistik dari pemerintah Prefektur Saitama dan hasil kuesioner dari beberapa mahasiswa yang kuliah di sana, ia dan kelompoknya menawarkan penggunaan probe data dari alat navigasi kendaraan roda empat untuk menentukan lokasi rawan kecelakaan. Selain itu, turut pula dibangun fasilitas jalan yang dapat mengurangi kemungkinan kecelakaan di lokasi tersebut. “Fasilitas yang kami tawarkan sederhana, berupa marka jalan dan polisi tidur berbahan cairan non-newtonian,” jelas mahasiswa kelahiran Jakarta tersebut.

Tak seperti biasanya, lanjut Aldi, untuk polisi tidur sengaja dibuat dari cairan non-newtonian yang hanya akan mengeras ketika diberikan gaya yang besar, sedangkan untuk gaya yang kecil cairan tersebut bersifat lunak bahkan cair hampir menyerupai air. Sehingga, ketika mobil melaju kencang, polisi tidur akan mengeras dan menghambat lajunya. Namun, jika mobil berjalan pelan, polisi tidur akan melunak. “Nanti setelah dilewati, polisi tidurnya dapat kembali ke bentuknya semula,” jelasnya.
Selanjutnya, di akhir progam Aldi dan peserta lain diajak mengunjungi daerah Nasu yang terletak di Prefektur Tochigi. Di sana, mereka menyambangi kuil dan beberapa tempat wisata. Bukan sekedar bertamasya, setiap kelompok diminta mewawancarai masyarakat lokal, kemudian memberikan analisa untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan tempat wisata tersebut.

“Kami juga diminta membuat film pendek mengenai kunjungan ke tempat wisata tersebut,” ujar penghobi olahraga renang.

Usai mengikuti progam ini, mahasiswa yang juga gemar membaca artikel tentang perkembangan teknologi itu, mengaku dapat belajar untuk memberikan solusi atas suatu masalah yang tak hanya sekedar memberi ide. Solusi tersebut haruslah didasarkan fakta dan data, dilihat relevansi terhadap masalah yang ada, juga harus menganalisa biaya yang akan dikeluarkan.

“Belum lagi, saya harus berkolaborasi dengan peserta dari berbagai macam negara dan latar belakang pendidikan, ibaratnya kami berperan sebagai konsultan untuk suatu perusahaan,” ungkap mahasiswa asal Pekanbaru tersebut.

Tak hanya Aldi, dua mahasiswa ITS lainnya juga berkesempatan untuk mengikuti program yang dihelat pada pertengahan bulan Desember lalu tersebut. Keduanya adalah Nuril Hidayati dari Departemen Teknik Fisika angkatan 2016 dan Nur Rhaeni Febrianti dari Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) angkatan 2015. (HUMAS ITS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar