Sabtu, 10 Maret 2012

Antara Sejarah dan Masalah yang Harus Dihadapi Indonesia-Maroko

  Hari itu Senin tanggal 2 Mei 1960 mendaratlah pesawat rombongan dari Republik Indonesia di Bandara Casablanca Maroko. Perlahan tapi pasti Presiden Soekarno menuruni anak tangga dari pesawat besi tersebut diiringi para pembantu dan ajudannya. Dengan penuh suka cita Raja Mohammed V menyambut kedatangan Soekarno di ibu kota Rabat. Di sepanjang jalan menuju istana raja, iring-iringan tamu agung dari Indonesia ini disambut rakyat Maroko dengan meriah dan penuh kebahagiaan. Kedatangan Soekarno disambut bagaikan seorang pahlawan, sudah tidak asing lagi memang, bagi rakyat di benua Afrika nama Soekarno begitu amat termashur sebab ia merupakan bapak revolusi yang mampu menginsipirasi negara-negara dibelahan Asia-Afrika-Amerika Latin untuk merdeka dan terlepas dari belenggu penjajahan. Oleh karena itu janganlah heran apabila dibeberapa negara di Afrika termasuk Maroko, Soekarno diabadikan menjadi sebuah nama jalan di pusat kota. Pemberian nama jalan itu bukanlah hanya sekadar romantisme sejarah, tetapi makna simboliknya adalah lebih ditekankan sebagai api persahabatan dan perjuangan yang terus menyala antara kedua negara.

  Satu tahun sebelum Soekarno mengunjungi Maroko, tepatnya tanggal 18 April 1955, dilaksanakan sebuah konferensi yang berhasil mempertemukan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Konferensi Asia Afrika, begitulah nama pertemuan besar tersebut, sebuah konferensi dari negara-negara yang senasib sepenanggungan, negara-negara yang pernah mengalami pahit getir dan kejamnya penjajahan bangsa barat. Dalam konferensi tersebut tampak hadir utusan dari Maroko yaitu Allah El Fassi. Ia hadir sebagai delegasi tidak resmi atau peninjau. Seperti diungkapkan oleh Ruslan Abdulgani dalam bukunya yang berjudul Bandung Connection:

  “Bandung sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika, terlihat juga sebagai kota penghubung, pusat koneksi dari negara-negara dari rakyat Asia dan Afrika dalam menyusun kesetiakawanan. Utusan dari pejuang-pejuang Asia Afrika hadir di kota ini, yaitu utusan-utusan yang dapat meloloskan diri dari kepungan dan belenggu penjajahan di Afrika Selatan dan Afrika Tengah, pelarian-pelarian politik dari Aljazair, Maroko, Tunisia, pejuang-pejuang dari Palestina serta kaum intelek dari Malaya yang pada waktu itu belum merdeka”.

  Walaupun ketika Konferensi Asia Afrika itu Maroko hanya bertindak sebagai delegasi tidak resmi atau peninjau, tapi dapat kita lihat dampak dan gaungnya di Maroko sangatlah besar. Terbukti satu tahun setelah Konferensi Asia Afrika dilaksanakan, tanggal 2 Maret 1956 Maroko mampu memerdekakan diri dan terbebas dari belenggu penjajahan Perancis. Ia menjadi negara pertama di Afrika Utara yang bebas merdeka setelah Konferensi Asia Afrika dilaksanakan. Jadi dapat dikatakan bahwa Indonesia melalui Konferensi Asia Afrika turut membidani proses kelahiran negara Maroko.

  Waktu terus berjalan dan zaman terus berubah. Kedua negara yang menganut sistem pemerintahan yang berbeda, dimana Indonesia menganut sistem Republik sedangkan Maroko menganut sistem Kerajaan, Maroko dan Indonesia masih harus terus berbenah dan membangun pondasi negara masing-masing. Membangun pondasi negara agar kokoh dan stabil tentu tidaklah mudah, ini dirasakan pula oleh kedua negara. Indonesia masih harus berperang melawan korupsi dan kemiskinan sedangkan Maroko saat ini harus terkena imbas dari tsunami revolusi yang menerjang negara-negara di Afrika Utara dan timur tengah. Rakyat Maroko menuntut perubahan politik dan pembatasan kekuasaan raja, seperti ditulis Majalah Gatra:
  “Sejak naik tahta pada tahun 1999, Raja Mohammed VI melakukan banyak perubahan dalam bidang politik dan ekonomi serta melakukan investigasi atas pelanggaran hak-hak asasi manusia selama pemerintahan ayahnya. Namun rakyat Maroko merasa langkah itu belum cukup. Ahad lalu ribuan orang berunjuk rasa mendesak pembatasan kekuasaan raja. Ribuan lainnya melakukan unjuk rasa lewat facebook dan menuntut perubahan politik lebih jauh”.

  Pada dasarnya ada satu kesamaan yang sangat jelas antara Indonesia dan Maroko yaitu sebagai sesama negara dengan mayoritas berpenduduk muslim. Dalam pergaulan internasional, kedua negara sama-sama terdaftar dalam keanggotan Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan Gerakan Non Blok. Dengan pengalaman yang dimiliki masing-masing, kedua negara ini masih harus banyak belajar dan saling bertukar pikiran. Wakil Menteri Luar Negeri Maroko Latifa Akherbach mengungkapkan, Maroko mengakui harus lebih banyak belajar dari Indonesia seperti dikutip www.antaranews.com sebagai berikut:
“Indonesia sebagai negara Muslim dengan penduduk terbesar dapat menyatukan nilai Islam, demokrasi dan modernisasi, sehingga Maroko menilai Indonesia merupakan negara penting untuk menjalin kerja sama dalam menghadapi tantangan dan krisis global serta Islamphobia yang makin meningkat”.

  Tak terasa setengah abad sudah Indonesia dan Maroko menjalin sebuah hubungan persahabatan. 50 tahun bukanlah usia yang muda, dalam perjalanan selama 50 tahun, persahabatan antara kedua negara yang mayoritas berpenduduk muslim ini terus dijalin dan lebih ditingkatkan.

  Kerja sama di berbagai bidang terus dilakukan, ini dapat kita lihat dari perjanjian kerja sama kedua negara seperti dalam bidang politik, perdagangan, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan. Kerja sama yang baik ini dilakukan oleh kedua negara karena dalam prakteknya Indonesia dan Maroko memiliki kesamaan dalam penentuan kebijakan dan pandangannya mengenai berbagai isu regional maupun internasional yang sedang terjadi saat ini.

  Isu-isu politik dan ekonomi sering menjadi perbincangan hangat di setiap negara yang membangun hubungan diplomatik. Semua negara banyak beranggapan bahwa bidang politik dan ekonomi memegang peranan penting dalam menjalin hubungan diplomatik. Ada satu hal yang seharusnya lebih di prioritaskan dalam hubungan Indonesia dan Maroko ini, yaitu di bidang sektor budaya. Bagaimana rakyat Indonesia akan mengenal saudaranya yaitu Maroko apabila tidak ada sesuatu hal yang bisa kita ingat tentang ciri dari Maroko. Dan satu-satunya yang bisa mengingat kita adalah budaya dan kesenian. Dengan lebih memprioritaskan kebudayaan sebagai nomor satu dalam hubungan kerja sama kedua negara, niscaya hubungan persahabatan ini tidak hanya sekadar basa-basi politik dan konsumsi tingkat elit penguasa. Tidak hanya sebagai basa-basi protokoler tingkat tinggi, tapi persahabatan kedua negara ini bisa dirasakan langsung dalam hati rakyat kedua negara masing-masing.

  Rakyat kedua negara tidak akan mengalami kesulitan dalam menerima kebudayaan dan kesenian, sebab banyak jenis-jenis kesenian yang bernuansa Islam di Indonesia. Kesenian yang ada di Indonesia sangat cocok untuk diperkenalkan kepada rakyat Maroko, karena kesenian yang ada di Indonesia berisi nilai-nilai dan norma-norma yang sangat arif dan bijaksana. Tidak sekadar tontonan tetapi dapat dijadikan tuntunan bagi kehidupan. Tuntunan itulah yang kelak akan membawa hubungan Indonesia dan Maroko semakin mesra.

  Mulai dari saat ini, alangkah baiknya apabila hubungan kerja sama ini lebih dititik beratkan kepada kebudayaan, sebab kebudayaan ini akan menguatkan identitas Indonesia dan Maroko di dunia internasional. Dengan strategi kebudayaan, Indonesia dan Maroko akan lebih saling menghargai dan menghormati dari pada menekankan kerja sama di bidang politik atau ekonomi.

Referensi:
1. Buku Bandung Connection karangan Roeslan Abdulgani
2. Majalah Gatra
3.
http://www.antaranews.com/berita/1277171547/maroko-ingin-belajar-demokrasi-dan-islam-dari-indonesia

Nama : Gatot Gunawan Djaya Haryono
Tempat/tanggal lahir : Bandung, 7 Juni 1987
Universitas : Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung
Alamat universitas : Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265
Alamat rumah : Jl. Karees Sapuran No. 65/121 RT.02 RW.01 Kel. Samoja Kec. Batununggal Bandung 40273
Nomor seluler : 0857 2005 ****
Nomor telpon rumah : 022 7318519
Alamat e-mail :
gunnagatot@yahoo.co.id
Akun facebook : Gatot Gunawan Djaya Haryono

2 komentar: