Senin, 20 Agustus 2012

Doa Bapa Kami

  Doa Bapa Kami menjadi semacam doa ‘wajib’ di kalangan umat Kristiani. Namun, karena ‘wajib’ dan rutin itulah terkadang kita menjadi lupa akan apa makna yang tersirat dalam doa itu. Memang tidak salah bahwa doa Bapa Kami adalah doa ‘wajib’ karena doa itu memang diajarkan oleh Yesus sendiri di bukit ketika ditanya oleh para muridNya tentang bagaimana sebaiknya kita berdoa. 


Namun, yang lebih penting lagi doa Bapa Kami lebih dimengerti esensinya, sehingga tak menjadi sekedar doa rutin yang kita bisa doakan dengan ‘ngebut’ tanpa rem tak sampai semenit selesai.
Bapa Kami yang ada di surga
Dimuliakanlah namaMu
Datanglah kerajaanMu
Jadilah kehendakMu,
Di bumi seperti di dalam surga…

  Sampai di sini doa ini tertuju secara vertikal, hubungan manusia dengan Tuhan. Kita menyebut “Bapa Kami” dan bukannya “Bapa Saya” atau “Bapaku” karena kita adalah Satu Tubuh. Kita adalah anak-anak Allah yang dipersatukan oleh Kasih Allah. Sebutan Bapa Kami meniadakan egoisme diri. Jadi apabila kita mendaraskan Bapa Kami, maka yang terjadi sebenarnya adalah kita mendoakan sesama kita juga dalam satu ikatan cintakasih Allah. Struktur Doa Bapa kami sendiri mengajarkan satu keutamaan (virtue), bahwa kia musti mengutamakan yang Ilahi terlebih dahulu sebalum yang manusiawi. Yang vertikal, barulah yang horisontal. Bukankah Yesus di bukit juga mengajarkan kita satu perintah baru untuk mengasihi Tuhan Allah kita dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan juga perbuatan kita? Doa Bapa Kami secara tepat mempraktekkannya.

Selanjutnya kita boleh mulai memohon, berbagi kasih dan saling mengampuni :
Berilah kami rezeki pada hari ini
Dan ampunilah kesalahan kami
Seperti kami pun mengampuni
yang bersalah kepada kami
dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
Akan tetapi bebaskan kami dari yang jahat.
Amin.

  Doa Bapa Kami benar-benar melatih kita untuk mengutamakan kepentingan Tuhan di atas kepentingan manusia. Kita boleh memohon setelahnya, dan permohonan akan ‘roti yang secukupnya’ . Ini mengingatkan akan pemberian Allah akan ‘manna’ yang secukupnya di padang gurun. Kini, Yesus telah memperbarui menjadi ‘manna baru’ yaitu Ekaristi. Roti yang adalah makanan bagi kesehatan tubuh dan sekaligus jiwa kita. Kita diajarkan untuk menjadi sadar akan berkat-berkat atau rejeki yang dilimpahkan tiap harinya. Kita tergantung sepenuhnya pada Allah, seperti bangsa Israel di gurun.

  Kemudian secara mendasar kita diingatkan untuk memohon ampun akan kecenderungan keberdosaan kita. Permohonan pengampunan pribadi, seiring kita mengampuni dosa sesama. Dengan kata lain, Doa Bapa Kami mengajarkan memanjatkan satu permohonan ampun bagi dosa kita, seperti halnya kita pun mau mengampuni yang bersalah kepada kita. Di sini Yesus benar-benar memberikan penekanan akan satu sinfulness tendency (kecenderungan berbuat dosa) yang dimiliki oleh domba-dombaNya yang lamur. Karenanya, Yesus tidak memanjatkan doa ini, karena Ia tak pernah berbuat dosa atau melanggar perintah Bapa. Tradisi menyebutnya Doa Para Murid atau Disciple’s Prayer.

  Sebutan “Bapa Kami” dan bukan ”Bapa Saya” sebenarnya juga mengacu pada Bapa yang Kekal di surga, bukanlah bapa duniawi. Kita harus melihat sepenuhnya Bapa di surga bukanlah bapa dalam kehidupan dunia yang patriarkis, kaku, atau yang pulang malam dalam keadaan mabuk, gemar kekerasan, dan lain sebagainya. Bapa yang demikian adalah bapa duniawi. Sedangkan Bapa yang ada di surga adalah Allah yang Mahakuasa, ‘di atas kita’, dan tak ada sesuatu yang mustahil bagiNya. (Luk. 1:37) Doa yang kita panjatkan tiap hari yang diajarkan oleh Yesus sendiri dalam khotbah di bukit bukanlah sembarang doa. Khotbah di bukit adalah khotbah dari segala khotbah. Demikian juga dengan Doa Bapa Kami ini. Pembahasan secara lebih detail makna Doa Bapa Kami secara Alkitabiah akan diturunkan dalam penulisan edisi berikutnya.
Kini di Pater Noster Church atau Gereja Bapa Kami telah terpampang Doa Bapa Kami dalam bahasa Jawa, setelah sebelumnya telah dipasang dalam bahasa Sunda dan Batak. Keseluruhan telah terpasang lebih dari 150 bahasa dari penjuru dunia…

Sumber : Paulus Budiraharjo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar