Minggu, 12 Agustus 2012

Resensi Novel 9 Summers 10 Autumns

Hai teman-teman, Stanley Wijaya bin www.faktakita.com akan share tentang novel yang udah dibaca selama 3 hari ini nih. Judulnya 9 Summers 10 Autumns, mau tau resensinya seperti apa? Check this out yaa..


Novel menakjubkan berjudul  9 Summers 10 Autumns adalah buah pena Kak Iwan Setyawan dan diterbitkan di Jakarta oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Tahun terbit, 2011 dan telah naik cetak hingga tujuh di bulan Agustus 2011.  Dengan tebal 206 halaman dan panjang 20cm buku ini hadir simple. Meskipun dengan kover depan hanya menyandingkan dua buah apel dengan ilustrasi kota Malang dan Amerika, begitu terlihat mendalam dan meaningfull.

Karir menulis Kak Iwan dimulai dengan buku Melankoli Kota Batu yang merupakan kumpulan fotografi dan puisi. 9 Summers 10 Autumns adalah novel pertamanya yang juga merupakan story perjalanan hidupnya. Sehingga secara otomatis Kak Iwan adalah tokoh utama 9 summers 10 autumns. Dengan tetap memakai kata ganti orang pertama “aku”, Kak Iwan begitu mangalir secara lugas namun tetap indah dalam ceritanya.

Novel yang diawali dengan setting kejadian perampokan Kak Iwan sewaktu hendak menonton pesta kembang api. Malam itupun akhirnya tak ada nyala merah hijau kembang api yang Kak Iwan saksikan, tak ada. Yang tersisa hanya biru di sudut bibir dan memerahnya T-shirt yang  ia kenakan.  Namun, ada nyala lain yang hadir bahkan lebih indah dari  merah hijau kembang api. Yang kemudian dalam novel tersebut Kak Iwan ceritakan tentang seorang bocah berseragam SD merah putih juga sosok Mbak Ati yang datang sewaktu ia dihajar oleh dua perampok itu. Tak ketinggalan potongan kisah foto keluarga dalam dompet.

Ia ingin menggambarkan secara tidak langsung tentang bagaimana ia mencintai keluarganya. Ada symbol dari tiap kata, begitulah Kak Iwan mengemas 9 summers 10 autumns. Perampok bisa dimaknakan sebagai bagian – bagian dari kehidupan Amerika yang tidak menyenangkan. Yang mana kemudian sosok Mbak Ati adalah salah satu orang yang juga berjasa dalam hidupnya. Menyelamatkan Kak Iwan.

Kemudian untuk sosok bocah berseragam SD merah putih sebagai media pencerita itu tertangkap sebagai suatu kenangan masa lalu yang ia coba jadikan teman sebagai pengurai ulang kenangan masa lalu. Sosok itu sebetulnya adalah jiwa Kak Iwan kanak – kanak yang mendampingi Kak Iwan, jiwa kanak – kanak yang dulu hanya mampu berharap tanpa menuntut untuk mendapatkan. Kecuali ambisi perubahan dan pendidikan.
Dari sosok bocah berseragam SD yang kemudian menghilang di puncak Rinjani seolah menceritakan, bahwa Kak Iwan dan masa kecilnya telah berdamai sekaligus mengungkapkan hidupnya takkan sama seperti kemarin. Kak Iwan telah siap dengan janji perubahan yang telah ia dapatkan berkat pendidikan.
Sosok bocah berseragam SD tersebut sebetulnya juga merupakan kekuatan lain 9 summers 10 autumns. Sebab, dengan hadirnya sosok bocah tersebut seperti ada warna lain dari cerita yang biasanya telah ada. Sosok bocah tersebut membuat lebih nyaman jalannya cerita. Membantu Kak Iwan lebih mudah menyampaikan kisah tersebut. Bagian ini merupakan kelebihan dari 9 summers 10 autumns.

Namun, sebetulnya pada bagian itu pula ada kekurangan yang mungkin relative muncul. Sebab, tidak semua orang adalah pembaca sastra dengan imajinasi dan pengertian pada interaksi simbolik. Sangat mungkin ada pembaca yang tidak mnegerti “siapa sebenarnya bocah berseragam SD merah putih”.

Beautiful True story! Novel yang syarat kisah cinta keluarga, yang detil hingga bagaimana asal muasal keluarga Kak Iwan. Dengan tokoh seperti Mbak Isa, Ibu, Bapak, Mbak Inan, Rini, Mira dengan diskripsi masing – masing. Namun, pendiskripsian yang terlalu detil pada bagian ini bisa jadi mengurangi ketertarikan pembaca. Selain itu, kekurangan dan kekuatan lain dari novel ini adalah diperlukan kecerdasan bahasa yang lebih karena bahasa inggris dalam percakapan lumayan banyak dipergunakan. Bagian ini akan menjadi kesulitan bagi mereka yang tidak mengerti arti kalimat dalam bahasa inggris meskipun jumlahnya tidak banyak. Akan tetapi bagian ini menjadikan  9 summers 10 autumns terlihat berkelas dan sangat elegant.

Selain itu dengan alur campuran yang dikombinasikan dengan apik oleh pengarang, telah membuat pembaca 9 summers 10 autumns ingin terus membalik halaman nambah, nambah lagi dan membaca hingga akhir. Potongan kisah setiap bab yang pendek namun padat makna membuat pembaca tidak bosan. Setting Amerika dan tempat – tempat di Indonesia juga membuat pembaca aktif berimjinasi. Terlebih dengan keindahan musim gugur yang dicitrakan begitu mengesankan.

Cerita yang bertitik tolak dari fakta sosial, realitas yang pernah terjadi, dengan segala konflik batin serta konflik kondisi. Membuat kisah 9 summers 10 autumns begitu kuat. Representasi menarik dari kisan Kak Iwan mampu membuat cerita di dalamnya berkesan mendalam di hati pembaca.

Mungkin benar bahwa tetaplah kurang pas rasanya bila sebuah sastra tiada sentuhan “love”. Hadirnya sedikit potongan kisah “love” membuat kisah ini semakin lengkap menceritakan unsur kehidupan tidak melupakan elemen apapun.

Cerita yang berkesan ini berbanding lurus dengan cerita yang syarat amanat. Ada banyak pesan kehidupan yang coba disampaikan Kak Iwan dalam tiap kata perkata. Perihal suatu kecintaan. Kisah kecintaan pada janji kehidupan yang lebih baik. Kecintaan pada harmoni persaudaraan.
Salah satu perkataannya yang berkesan ialah, “Setiap opportunity itu pasti berada di atas. Maka   dibutuhkan  lompatan yang lebih untuk menggapainya. Dan, lompatan itu adalah Intelektual”. Ia tak sekedar berteori mean ataupun modus, tapi Kak Iwan telah membuktikan semua itu. Nyata! That’s real!. Keretakan perjalanan yang ia ukir bagai relief, hingga sampai akhirnya lulus dan menagih janji perubahan. Menyambut profesi di Nielsen Jakarta, berlanjut ke Danareksa, bahkan terbang ke Amerika dan berjumpa dengan Mbak Ati.
9 Summers 10 Autumns adalah lamanya ia berada di Amerika, dan waktu Kak Iwan meresapi tiap periode hidupnya.“Impian harus menyala dengan apapun yang kita miliki meskipun yang kita miliki tidak sempurna, meskipun retak retak”-9 summers 10 autumns (Kak Iwan Setyawan)- (Arf)
kekalahan itu mungkin menyakitkan, namun itu adalah kekuatan dari suatu pengalaman  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar