Jumat, 20 Januari 2012

Kasih yang Abadi

      Pernah ada seorang perempuan, rambutnya terurai panjang, mata yang berbinar, muka lonjong yang menggambarkan parasnya yang rupawan. Dengan langkah penuh harapan dan keyakinan yang mengalir di urat nadinya, semangat yang memacu jantungnya, kasih yang memenuhi ruang paru-paru yang membuatnya masih bertahan hidup sampai sekarang.


                  Diingatnya memori masa lalu dengan tatapan kosong, dipenuhi pikirannya dengan angan-angan, terlapis kebimbangan seakan berperang melawan waktu. Masih tersisa kenangan indah tiga tahun lalu. Ketika dengan cerianya dia melihat buah hati berumur tujuh bulan bermain di halaman belakang rumah bercat putih bernuansa natural. Dengan sabar dibimbingnya untuk berdiri, menggapai asa yang terpendam, meski tak bisa diucapkan secara lisan. Kata-kata manis keluar dari bibir ibunya yang merah, membuat anaknya percaya tidak akan ada hambatan di depan yang menghalangi laju harapan.

                  Waktu menunjukkan pukul empat sore ketika seorang laki-laki tampan, bertubuh tinggi tegap, rambut tertata rapi, dan menggunakan setelan jas yang dikenakannya setelah pulang dari kerja di kantor. Disambutnya oleh istri tercinta dengan penuh rasa sayang. Wawan dan Eny adalah sepasang suami istri yang mempunyai seorang anak laki-laki bernama Rio, dan akan bertambah lagi seorang anggota keluarganya yang masih ada di alam kandungan, mendiami rahim ibunya selama dua bulan terakhir.

                  Hari-hari keluarga tersebut berlangsung dengan tenang, damai, dan tentram. Selalu diluangkan waktu untuk bercengkerama dan saling melengkapi satu sama lain seperti sepasang sepatu yang melangkah bersama, yang tidak berguna lagi ketika salah satunya menghilang. Hingga tiba suatu saat, hari-hari yang membekas dalam kenangan lembar kehidupan, perlahan-lahan memudar, diterpa air keruh menghapus memori masa lalu, melenyapkan warna-warni kehidupan, menghilangkan asa yang terpendam di dalam lubuk yang paling dalam.
                 
Wajah pucat Eny membuat Wawan khawatir. Apalagi beberapa hari terakhir badannya terasa lemah, semakin kurus, dan demam yang tinggi. Segera Wawan membawanya ke rumah sakit. Dua orang perawat membawa Eny ke sebuah ruangan untuk diperiksa dokter, sedangkan Wawan menunggu dengan harap-harap cemas di lobi ruang tengah. Kadang terucap doa di bibirnya, mengiringi langkah kaki istrinya.

Setelah beberapa lama menunggu, datanglah seorang dokter menghampiri Wawan. Tatapan matanya mengisyaratkan kesedihan. Dokter itu membisikkan sesuatu di telinga Wawan, dan entah mengapa setelah mendengarnya, kedua orang tersebut melangkah bersama ke sebuah ruangan berjarak beberapa blok dari ruang tengah yang belakangan diketahui Wawan adalah milik dokter tersebut.

Wawan dan dokter Hari, terpampang jelas dari ukiran papan nama bertuliskan dr. Hari Wicaksono, Sp.KK, duduk berhadapan di sebuah meja kayu persegi berwarna coklat.

“Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Saya sangat menyesal untuk mengatakan, tapi ini penting untuk diberitahukan. Istri Anda saya diagnosa menderita penyakit AIDS, saya ragu dia dapat bertahan hidup lebih dari empat tahun mendatang. Semoga Bapak diberi ketabahan untuk menjalaninya”, ujar dokter tersebut.

Mendengar vonis dokter Hari, telinga Wawan bagai disambar petir, kepalanya seakan dihujani batu sehingga tidak ada lagi yang bisa dipikirkan, selain nasib istrinya yang lembut, penuh  kasih dan sayang, nasibnya, dan nasib anaknya kelak. Tidak ada lagi tempat baginya untuk menyalahkan keadaan, yang bisa dilakukannya hanyalah pasrah menerima semua takdir. Bagaimana bisa istri yang sangat dicintainya menderita AIDS sedangkan berhubungan dengan laki-laki lain pun tidak pernah. Wawan sendiri juga tidak menderita penyakit serupa. Eny yang dia kenal adalah sosok yang setia dan perhatian, pandai menyenangkan hati suami dan anaknya.

Belakangan diketahui Wawan, istrinya terjangkit AIDS karena pendonoran darah. Dulu, Eny mengalami kecelakaan sehingga mengakibatkan pendarahan hebat yang memaksanya untuk menjadi resipien. Entah karena keteledoran perawat waktu itu, darah yang didonorkan kepada Eny terinfeksi HIV.

Beberapa bulan setelah Eny mengetahui ganasnya penyakit yang dideritanya, yang siap menebas nyawanya hidup-hidup, dia meminta cerai kepada suaminya karena tidak sanggup lagi hidup hanya sebagai parasit yang suatu saat suami atau anaknya dapat tertular, meski mereka masih sayang dan membutuhkan Eny. Dengan terpaksa, Wawan melepas cinta dengan menceraikan istrinya, sedangkan Rio menjadi tanggung jawab ayahnya.

                  Setelah menelan dua kenyataan pahit, divonis menderita AIDS dan berpisah dengan keluarganya, Eny mengalami keguguran akibat depresi berat yang ditanggungnya. Janin yang dikandung meninggalkannya menghadap Tuhan.

                  Beberapa bulan hidup dengan kesengsaraan, tidak ada seorang pun yang peduli terhadapnya, karena memang itu yang diharapkannya,  membuat Eny merasa tersiksa. Dia berniat mengubah hidupnya. Anggapan parasit dibuangnya jauh-jauh. Perlahan-lahan dia mulai tersenyum, semangat yang menggelora kembali memenuhi dadanya. Eny sekarang kembali seperti dulu.

                  Eny menjadi ketua Aktivis Anti AIDS, menyemangati orang lain yang menderita dan mencegah sebelum orang lain menderita seperti dirinya. Karena dalam pikirannya, dia berkeyakinan harapan itu masih ada, selama orang masih merasa perlu, masih merasa menginginkannya.

Tak pernah dirasa lelah olehnya untuk menggelar acara sosialisasi pencegahan penyakit AIDS yang menyerang kekebalan tubuh, tak malu pula dia menceritakan pengalaman hidupnya, dia hanya berharap orang lain dapat belajar darinya, jangan sampai menyesal nantinya. Eny bagai lilin yang menerangi, meski dirinya sendiri rapuh dan luluh. Dia tidak tahu akan sampai angka berapakah umurnya, kecuali Sang Khalik Yang Maha Berkehendak, alasan itulah yang memacu untuk memanfaatkan semaksimal mungkin waktu yang tersisa selama hayat masih dikandung badan. Yang dia tahu hanyalah, bahwa kasihnya mengalir abadi pada orang yang mencintainya, orang yang rindu akan keberadaannya. Tidak dipikirkannya hal buruk apakah yang akan menimpa satu tahun mendatang.


Unsur intrinsik cerita pendek “Kasih yang Abadi” :
·        Tema                                      : Perjalanan Hidup
·        Judul                                      : Kasih yang Abadi
·        Tokoh dan Perwatakan    :
Eny                 : Sabar, penuh kasih sayang, lembut, bersemangat
Wawan         : Mencintai apa adanya, sabar, tabah, ikhlas
Dokter           : Perhatian
·        Alur                                        : Campuran
·        Sudut pandang                   : Orang ketiga
·        Gaya bahasa                        : Hiperbola
·        Latar tempat                        : Rumah Eny dan Wawan, rumah sakit
·        Latar waktu                         : Masa lalu, suatu hari, pagi, siang, dan malam
·        Latar suasana                      : Gembira, tenang, tegang, pilu, sedih
·        Amanat                                 : Kehidupan adalah ciptaan Tuhan, begitu juga dengan waktu. Jalani kehidupan sesuai hati nurani, sebelum waktu mengakhiri semua asa. Lewati setiap tindakan dengan hati-hati, karena sesal kemudian tiada berguna.
Oleh : Tunggul Wicaksono
X2 / 30
Animated by : www.faktakita.com

4 komentar: