Kamis, 12 Januari 2012

KAULAH SAHABATKU

Bel berbunyi, waktunya pulang untuk SMA 5. Terdengar langkah-langkah kaki menuju gerbang sekolah, tapi sesuatu menghentikan langkah-langkah itu. Hujan deras sedang menghujani bumi. Aku dan sahabatku masih di kelas menunggu hujan reda. Lia ya Lia dialah yang ku maksud sahabatku, mau menerima kekuranganku, selalu bersamaku, dan ada disaat kubutuh. Dialah sahabat sejatiku. Sejak SMP lah aku telah bersahabat dengan dia. Canda, tawa, tangis telah dilalui bersama.


                Tak lama hujan mulai reda, dengan hari-hati kami mulai menapaki lantai yg tersapu oleh derasnya air hujan. Lia mampir ke rumahku dulu untuk makan malam bersama keluargaku. Sering Lia  bermain ke rumahku karena orang tuanya yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, Orang tuanya sering keluar kota bahkan sampai keluar negeri, membuat Lia merasa kesepian dan butuh teman di rumah. Kami anggap Lia sebagai saudara sendiri. Sering juga dia mencurahkan hatinya kepada kami. Begitu teriris jika mendengarnya.

                “Lia, sudah malam, kamu gak pulang?” Ibuku bertanya.

                “(melihat jam tangan) iya, bu, semuanya aku pulang dulu, ya?. Assalamualaikum”Pamit Lia.

Aku dituntun ibuku menghantarkannya sampai depan rumah,

                “(dari jauh) dadaaa Niaa..sampai jumpa besookk yaaa?” teriak Lia

                “Okee cantttiiiiikk”teriakku juga

 Tak tega melihat sahabatku pulang sendiri di kegelapan malam.Tapi, apa daya aku sebagai sahabat, aku juga tak bisa menghantarkannya, aku hanya berdo’a agar selamat sampai rumah. Tak lama, ibu mengajakku masuk ke rumah untuk tidur.

                Pagi telah tiba, ayam berkokok ria, ku terbangun dari mimpi dan beranjak dari tempat tidur, mencari sesuatu yang setiap hari membantuku dalam berjalan. Langsung bergegas ke kamar mandi dan sarapan pagi. Seperti biasa, aku menunggu Lia untuk berangkat sekolah bersama. Namun, kali ini, Lia lama tidak terdengar suara teriakannya, apa mungkin dia sakit? Tanyaku dalam hati. Sekitar setengah jam aku menunggu, belum terdengar juga dia memanggilku. Aku memulai sekolahku pagi ini tanpa sahabatku.

                Tiba di sekolah, salah satu temanku memberitahu, kalau Lia sekarang berada di rumah sakit. Penyakit jantungnya kambuh lagi, aku terdiam, dan ingin sekali menjenguknya. Sepi, sepi dan sepi itulah kata yang patut kuucapkan. Hari ini sepi tanpa ada sahabatku yang selalu disampingku. Detik berganti menit, menit berganti jam, sekolah pun telah usai, aku pun pulang sendiri tanpa ditemani Lia. Esoknya seperti itu pula. Lia belum juga masuk sekolah.

                Pada saat pulang sekolah, sesuatu dibelakangku, terus memencet klaksonnya. Aku tidak memikirkan itu yang kupikirkan hanyalah bagaimana keadaan sahabatku sekarang. Tiba-tiba gelap semakin gelap. Hingga akhirnya aku bangun dari tidur panjangku, ku membuka mata  kulihat ada cahaya, putih, semakin kubuka dan akhirnya kubuka. Remang-remang, terlihat sesosok wanita disampingku.

                “Ibu?”. Tanyaku heran pada wanita itu.

                “Alhamdulillah, kau sudah bisa melihat, Nak?” terharu ibu.

                “Alhamdulillah. Terima kasih Y Allah.” Ku berdo’a (terharu).

Ku melihat sekelilingku, ayah dan ibu ada disitu. Tapi ada seseorang yang kurang yaitu mana Lia?. Apakah dia masih sakit?

                “Bu, Lia masih sakit, ya?” tanyaku

                Ibu hanya merunduk. Tak menjawab sepatah kata apapun.
                “Dimana Lia, Bu?”

Ibu menceritakan semuanya. Air mataku jatuh, aku teriak, berlari keluar dari kamar rumah sakit dan ingin melihat keadaan Lia. Tapi, ayah dan Ibuku menghentikanku, aku berusaha, tapi tidak bisa dan akhirnya, ibu menenangkanku. Aku menangis tak kuasa menahan keadaan ini. Lia sahabatku telah mendonorkan matanya kepadaku. Dia merelakan sesuatu yang berharga darinya, untukku, untuk sahabatnya yang tak bisa berbuat apa-apa pada saat dia sakit. Sungguh sangat berat untuk menerimanya.

3 hari kemudian, aku sudah mulai sekolah. Sepulang sekolah, aku sudah diperbolehkan menjenguk Lia. Ku melangkahkan kaki ini dengan berat, tak kuasa menahan apa yang telah dialami sahabatku. Tiba di muka pintu, ku membukanya, perlahan-lahan. Terlihat sesosok gadis cantik sedang terbujur lemas di tempat tidur, dengan segera kumendatanginya. Ku menangis disampingnya, tak tahan melihat keadaannya sekarang. Ku menunggu disampingnya, sampai akhirnya ku tertidur lelap.

Bergerak, sesuatu menggerakkanku, aku terbangun, ternyata dokter membangunkanku dan menyuruhku untuk pulang. Aku pulang dan ingin besok kujenguk Lia lagi. Ku terus berdo’a semoga ada yang mau mendonorkan mata kepada sahabatku, yang telah rela berkorban demi diriku. Ku hanya berdo’a dan berdo’a. Berusaha mencari orang yang mau dan rela mendonorkan matanya. Tuhan belum menjawab do’aku. Namun, aku yakin Tuhan pasti kan membalas kebaikan Lia.

Berhari-hari sudah berlalu, dan akhirnya, suatu keajaiban tiba, ada seorang yang meninggal akibat kecelakaan. Aku mencari tau keluarganya dan mengkonfirmasinya. Setelah menemukan, ku berbicara dengan keluarga si korban dan menceritakan apa yang telah dialami Lia. Kukira keluarganya tidak mengijinkan mata si korban diambil, tapi lama kelamaan keluarga tersebut bersedia. Alhamdulillah syukur ku pada Allah.

Operasi pemindahan mata, berlangsung cukup lama, sekitar 4 jam lebih. Namun aku, keluargaku dan keluarga Lia setia menunggu. Hingga akhirnya, dokter membukakan pintu dan mengatakan

“Berkat do’a ibu, bapak dan adek, operasinya berhasil” kata dokter dengan senang.

“Alhamdulillah, terima kasih, Dok.”syukur orang tua Lia.

Kami masuk untuk menemui gadis itu, lemah dan masih koma. Esoknya Lia sudah sadar tapi perban dimatanya belum dibuka. Ku berada disampingnya selalu.

“(dengan meraba disekitarnya) mama, papa?” ucap Lia

“(dengan menggenggam tangan Lia) iya sayang. Mama dan papa ada disini” terharu mama Lia
Dengan segera, kulihat Lia memeluk kedua orang tuanya. Perasaan sedih dan senang mewarnai disitu. Tiba-tiba, ia bertanya pada mama dan papanya

                “Ma, Pa, Gimana kabar sahabatku, Nia, ?Apa dia baik-baik saja?.” Tanya Lia

Ku menangis, walaupun dia masih dalam keadaan kurang baik seperti ini, dia menanyakanku. Oh...Tuhan, sungguh mulia sekali gadis ini

                “Hey, jangan berbicara banyak-banyak. Istirahat dulu gih.” Jawabku dengan menangis
                “(menangis kecil) Nia, Nia ?. kau dimana ?.” Lia mencariku

                “Aku disini cantik (ku memeluknya). Aku kan selalu disampingmu. Ni makan dulu, aku suapin. Makn yang banyak biar bisa sekolah dan bersama lagi. Ok?” Ajakku

                “Oke (jawabnya dengan mengunyah makanan).”

2 hari kemudian, dokter membukakan perlahan-lahan perban yang menutupi matanya. Lia perlahan-lahan membuka matanya. Dia masih memandangi sekitarnya, hingga akhirnya dia menemukan kedua orang tuanya.

                “Lia?” tanya mamanya

                “Mama? “ jawab Lia

                “Iya, Nak. Syukurlah kau sudah bisa melihat lagi. Ma’afkan mama dan papa ya, Nak?. Sering meninggalkan Lia sendirian. Mama dan papa janji akan selalu menjaga Lia.” Janji papanya
Lia hanya menganggukkan kepala dan memluk kedua orang tuanya.

                “Heyy...”sapaku

                “Nia??..itu kau?.” Tanya Lia

                “kau bodoh, ya?. Ngapain juga kau mendonorkan sesuatu yang berharga kepadaku?. Aku kan tak ada disaat kau butuh, ngapain kau mempedulikanku?. Hehehe” candaku

                “hahaha...(Lia tertawa). Aku hanya pengen melihat dirimu bahagia saja.” Jawab Lia tegas

                “(ku memeluknya) Lia, kaulah sahabatku. Memang benar-benar sahabatku. Aku janji akan selalu bersamamu untuk selamanya.” Aku berjanji

                “(dengan menunjukkan kelingkingnya kepadaku) janji?”

                “Janji utk sahabatku!”.

Akhirnya, kami pun bersama lagi. Di depan, banyak halangan dan rintangan mewarnai kehidupan persahabatan kami. Namun, dengan kebersamaan, kami yakin dapat keluar dari masalah-masalah tersebut.


UNSUR INTRINSIK

1.       Tema                           : Keyakinan mendatangkan kebahagiaan

2.       Tokoh                      
a. Nia                            : baik, pengertian, penyayang
b. Lia                            : rela berkorban, setia, penyayang
c. Ibu  Nia                     : sabar, tabah, pengertian
d. Ayah Nia                  : sabar 
e. Mama dan papa Lia  : egois, akhirnya penyayang

3.     Alur                         : Maju
4. Sudut pandang             : orang pertama (pengarang tokoh utama)
5. Latar                            : 
a. Waktu            : siang hari, malam hari, pagi hari.
b. Tempat         : kelas, rumah Nia, tempat tidur, rumah sakit, rumah korban.
c. Suasana       : khawatir, takut, cemas, sepi, menegangkan, mengharukan,  menyedihkan, bahagia.

6. Amanat                           :
 a. Hidup di dunia, tak mungkin kita sendiri. Mesti butuh orang lain. Jadilah, seseorang yang bisa menerima keadaan orang lain dengan lapang dada.
 b. Jadilah seseorang yang bisa membuat hidup orang lain bahagia.
 c. Yakinlah, bahwa Tuhan akan membantu kita.


        OLEH: ANITA PUTRI R./X2
Animated by : www.faktakita.com

8 komentar:

  1. Ilham@ iyaa, terima kasih yaa :)

    Eksak@ iyaa kang :)
    Terima kasih..
    Cerpennya temenku itu kang :)

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Puput@ komentarnya kok dihapus???

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekedar saran gan kalau komen, pake firur blogger yang baru ajaa kayak gini :D

      Hapus
    2. yang kaya gimana sih gan..??

      Hapus
  4. Ayoo komentar lagi yokk :D

    BalasHapus