Selasa, 17 Januari 2012

Surat Kecil

  Sewaktu kecil aku memiliki seorang sahabat sejati. Sahabat yang selalu menemaniku disaat sedih maupun senang. Dia bernama Biru, parasnya sangat cantik sekali. Berambut panjang sedikit ikal dibawahnya. Dia juga mempunyai lesung pipit di pipinya, sehingga saat dia tersenyum terlihat sangat manis sekali.


          Ketika itu, aku dan Biru masih kelas 4 Sekolah Dasar. Kami setiap hari pulang pergi sekolah bersama. Mengerjakan pekerjaan rumah bersama. Pergi ke kantin bersama. Kemana-mana selalu bersama. Bisa diibaratkan seperti saudara kembar yang tak bisa dipisahkan.

          Pada suatu hari setelah pulang sekolah, aku dan Biru sengaja pergi ke sebuah lapangan untuk berteduh dibawah pohon. Karena siang itu benar-benar panas. Serasa matahari tepat berada diatas kepala. Sambil meneguk es kelapa muda tiba-tiba Biru berkata “Ngga, gimana kalo kita masing-masing menulis sebuah surat. Yang isinya seperti apa kita pada saat umur 20 tahun nanti, surat itu nanti kita masukin kedalam botol kemudian botol itu kita tanam di bawah pohon ini biar kita ingat persahabatan kita saat tua nanti. Tapi sebelumnya kita harus janji dulu gak boleh ada yang buka surat ini sebelum kita sama-sama berumur 20 tahun nanti. Ditempat yang sama, jam yang sama pula kita bertemu disini untuk membuka surat ini. Janji?” “Baiklah aku setuju. Janji!” jawabku. Kemudian aku dan Biru menulis surat yang itu. Biru tidak mengetahui surat yang kutulis. Begitupun  denganku, aku juga tidak mengetahui apa yang ditulis oleh Biru.

          Kejadian itu berlalu. Sekarang aku dan Biru sudah kelas 1 SMP. Suatu hari tiba-tiba ayahku berpindah tugas ke Bandung. Itu membuat aku harus ikut pindah juga dan otomatis aku juga harus meninggalkan Biru sahabatku selama ini. Begitu sedih aku menerima kenyataan ini. Tapi mau gimana lagi. Aku harus malanjutkan hidupku.

          Hari yang tak kutunggu-tunggu datang. Aku dan keluargaku sudah siap untuk pergi dari desa ini. Tempat yang penuh kenangan bersama Biru. Aku menangis saat berpamitan kepada Biru. Rasanya tidak ingin meninggalkannya. Sebelum aku pergi Biru berpesan kepadaku “Ngga, kamu jangan pernah lupain aku ya. Selalu ingat aku dalam hatimu ya!”. Pesan itu selalu kuingat sampai saat ini.

          Sekarang umurku sudah genap 20 tahun. Beberapa hari lagi adalah hari yang kutunggu-tunggu selama beberapa tahun. Hari yang sudah kusepakati untuk membuka surat itu. Aku sengaja untuk datang ke kotaku dulu beberapa hari sebelum tanggal itu.

          Setibanya disana aku langsung saja menuju kerumah Biru. Namun yang ada hanya si mbok. Aku berfikir apa Biru dan keluarganya sedang pergi. Setelah dipersilahkan duduk aku langsung menanyakannya pada si mbok.


“Mbok, kok sepi amat emang yang lainnya pada kemana?”
“Ehm...ehmm anu den”
“Anu gimana to mbok? Bikin bingung aja.”
“Se.. see.. sebenernya pada ke rumah sakit semua den”
“Memangnya  yang sakit siapa mbok?”
“Lebih baik den Angga kesana saja”
“Sebenarnya siapa sih mbok yang sakit, jadi penasaran saja.”
“sudah den kesana saja. Ini mbok kasih alamatnya.”
“Baiklah mbok, saya pergi dulu ya”

          Setelah menerima kertas kecil yang berisi alamat rumah sakit tersebut. Aku langsung menuju rumah sakit yang ada di kertas itu. Tak lama kemudian akupun tiba dirumah sakit tersebut. Langsung saja aku menuju ruangan yang diberitahu si mbok tadi. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ruangan itu ketemu. Akupun mengetuk pintu dan sedikit demi sedikit membuka pintu ruangan itu. Aku sangat terkejut, ternyata Biru yang terbaring diatas tempat tidur itu. Kepala yang dulu ditumbuhi rambut panjang itu sekarang telah sirna. Kepalanya menjadi botak. Begitu mengiris hati melihatnya.

          Aku menghampirinya. “Kamu sakit apa Ru? Kok gak bilang-bilang sama aku?” tanyaku. “Maafkan aku ya Ngga.” jawabnya sambil meneteskan air mata. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku langsung keluar ruangan dan menumpahkan semua air mataku. Aku tak sanggup melihat Biru seperti ini. Tanpa kusadari ternyata Tante Eny mama Biru sudah sejak tadi ada di belakangku. Dia langsung memelukku. Sambil menangis dia berkata “Kamu harus menjaga Biru sampai akhir hayatnya. Biru mengidap penyakit kanker otak stadium akhir Ngga.” Tak bisa berkata apa-apa lagi aku menangis dan menjatuhkan diri kelantai. Hari itu penuh dengan tangisan bagiku.

          Setiap hari aku terus merawat Biru  yang kondisinya semakin melemah. Suatu ketika saat aku sedang berada dirumah Biru untuk mengambil keperluan. Tiba-tiba Hpku berbunyi, ada telfon dari Tante Eny. Karena tante Eny menangis sehingga tidak begitu jelas apa yang dikatakan.. Pasti ada sesuatu yang terjadi pikirku. Aku segera saja menutup telefon dan bergegas menuju rumah sakit kembali.

          Ternyata benar apa yang aku pikirkan. Di ruangan itu aku melihat Biru sudah tidur meninggalkan orang-orang yang dia sayang. Akupun tak dapat membendung tangisku. Dengan ikhlas aku menerima kepergiannya. Mungkin ini memang jalan terbaik. Dia pasti bahagia disana. Ada sedikit rasa bahagia karena aku sudah bisa menjaganya di hari-hari akhirnya.
          Setelelah pemakaman Biru hari itu juga. Aku baru sadar kalau hari itu adalah hari yang kutunggu selama bertahun-tahun. Aku segera saja menuju ke lapangan yang dulu aku bersama Biru menulis surat itu. Aku tiba disana tepat pada jam yang dijanjjikan seperti dulu. Dengan segera aku menggali lubang dibawah pohon itu dan menemukan botol yang dulu aku tanam bersama Biru. Aku membuka botol surat Biru . aku menangis lagi saat membaca surat yang ditulis Biru itu.

“Ini impianku saat aku berumur 20 tahun kelak. Seperti namaku ‘Biru’ aku ingin terbang bebas menembus langit biru diangkasa bersama kenangan-kenangan dan impian-impianku. Lepas dari dunia yang fana ini. Dan bahagia di dunia yang berbeda disana. Di langit ketujuh.” Impiannya benar-benar terjadi. Dia sudah berada ditempat yang dia inginkan selama ini.

          Kini hari-hariku kembali seperti biasa setelah kepergiannya. Biarpun kini raganya tlah tiada, tapi kasih dan sayangnya selalu ada. Tersimpan erat diruang hatiku.


Unsur Intrinsik Cerita

v  Tema                             : Persahabatan
v  Judul                             : Surat Kecil
v  Latar Tempat             : Lapangan, Rumah Angga, Rumah Biru, Rumah sakit
v  Latar Waktu               : Pagi hari, Siang hari
v  Latar Suasana            : Bangga, Senang, Sedih, Haru
v  Tokoh & Perwatakan   :
Ø  Angga                   : Perhatian, penyayang, setia
Ø  Biru                        : Perhatian, penyayang, setia
Ø  Tante Eny            : Penyayang, Perhatian
Ø  Si mbok                                : Perhatian
v  Alur                               : Maju-mundur
v  Amanat                        :
Ø  Sahabat adalah teman yang selalu mangajarkan kita banyak hal.
Ø  Kita diajarkan untuk tabah menjalani cobaan yang diberi Tuhan.
Ø  Kita harus percaya bahwa kita semua nantinya akan mati.
Selalu ikhlas dengan cobaan yang diberikan oleh Tuhan.


By : Fitria Rizki Ramadhani
Animated by : www.faktakita.com

2 komentar:

  1. gambarnya bening buat sarapan pagi! hehehe...

    BalasHapus
  2. ahahaha..
    bisa di bilang begitu gan :)
    wkwkwk

    BalasHapus