Rabu, 04 Januari 2012

Kita Sendirian di Dunia ini (Bagian Terakhir)

Fia turun dari bus yang membawanya pulang. Langkahnya terlihat berat saat berjalan menyusuri pekarangan rumah kakeknya itu. Wajahnya pucat dan kelihatan lelah sekali. Kenangan di Jakarta, bersama orang yang dicintainya telah berlalu bersama Bus itu.

         Fia tinggal di tepian kota bandung. Dan Kota itu, tentu saja,  hanya berada dua jam perjalanan dari Jakarta menggunakan Bus. Sebuah rahasia konyol yang dimilikinya untuk menjauhkan sahabatnya agar tidak berkunjung ke tempat tinggalnya. Terutama menjauhkan Gian yang selalu memaksa ingin mengunjungi ayah dan ibu Fia.


         Fia berbohong Hampir tentang semua Hal.  Fia melakukan itu agar dia bisa terlihat normal seperti gadis lain. Dan Dia tidak ingin hidup dari rasa iba orang lain. Karena itu Fia juga berbohong tentang orang tuanya. Orang tua Fia sudah lama meninggal dunia, dan kini dia tinggal bersama kakek dan neneknya. Fia berbohong, agar bisa seperti orang lain yang normal.

         “kau tidak bilang ingin pulang” nenek Fia menyambutnya dengan senyum.

         “nenek…aku kangen nenek..” fia melepas kopernya dan segera memeluk neneknya.

         “wah, wah, lihatlah, cucuku yang cantik telah pulang” kakek fia mendatangi cucu kesayangannya itu dengan cepat. Fia menahan haru yang teramat sangat saat melihat kakek dan neneknya.

         “tinggalkan kopermu. Biar kakekmu yang gagah ini yang membawanya” sang kakek dengan ceria menenteng bawaan Fia.

         “ayo, cepat masuk. Kita makan dulu.” Kata nenek fia.

Mereka bertiga seperti bertahun-tahun tidak bertemu. Keceriaan itu terlihat tidak memudar sedikitpun. Mereka tertawa oleh lelucon kakek Fia. Sang nenekpun tidak ingin kalah, beliau menceritakan cerita tentang kakek Fia yang semakin pikun. Sejenak, mereka melupakan semua kesedihan. Sejenak, mereka terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia.

         Namun Fia ingin waktu yang sejenak ini menjadi abadi. Dia ingin membekukan semua tawa ini seperti sebuah foto. Fia ingin membuat sisa kehidupannya menjadikan kakek dan neneknya beruntung memilikinya. Dan sesungguhnya itulah alasan Fia kembali ke Bandung. Sudah waktunya, dia membayar kembali semua hutang yang telah dipinjamnya dari kedua orang ini.


         ***

         Bandung memasuki malam. Fia menyandarkan tubuhnya yang lemah di bangku malas yang berada di teras. Dia memerhatikan lampu jalan yang perlahan terang karena malam semakin gelap gulita. Sekuat tenaga dia mengalihkan pikirannya dari Jakarta. Namun semakin ingin dilupakan, semakin saja sulit untuk membuang itu semua.

         Sakit di kepala fia semakin menjadi. Nyeri pada tulang dan persendiannya semakin terasa parah sekali. Gejala seperti ini sudah lama di alaminya. Namun untuk menjelaskannya kepada sang kakek atau nenek sangatlah tidak mungkin. Kata-kata seperti kanker darah, atau “leukemia”, sangat sulit dipahami oleh mereka. Mereka hanya tahu, bahwa Fia sakit-sakitan sejak kecil. Mereka selalu mengira bahwa itu karena tubuh Fia yang lemah. Asal makan banyak dan istirahat teratur pasti akan sembuh. Kalimat kakek Fia itu adalah kalimat yang paling di sukai Fia.

         “Fia, ayo masuklah. Angin malam tidak baik untuk tubuhmu” sang nenek berdiri di depan pintu memanggil fia.

         “sebentar lagi, nek. Sebentar lagi.” Kata fia.

         Sang nenek ingin memaksa lagi, namun beliau terhenti. Bias mata fia memberi tahu beliau bahwa fia sedang gundah. Rona wajah fia mengatakan sesungguhnya dia sedang menunggu seseuatu. Meski sang nenek tidak tahu apa arti kegundahan itu, beliau tidak ingin menanyakannya. Ada bulir air mata yang siap jatuh di mata fia. Sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya.

         Raut wajah fia tetap seperti itu hingga hari-hari berikutnya. Kakek dan nenek menyadari ada sesuatu yang telah terjadi pada diri Fia. Tapi mereka mengenal Fia, dia bukan orang bisa membuka diri untuk bercerita. Selalu menyimpan sendiri semua masalahnya.

         Dan kondisi kesehatan fia pun semakin memburuk karena tak lagi terapi seperti di jakarta dulu. Tubuhnya lemas dan hampir tidak bisa berjalan lagi. Kadang-kadang darah keluar dari mulutnya. Sebagian tubuhnya memar dan membengkak, namun itu semua ditutupinya dengan baju panjang dan jilbabnya. Tak pernah sekalipun mengeluh atau terlihat sakit di dekat kakek dan neneknya. Dia sendiri takut, sampai kapan bisa berbohong seperti ini.


         ***

         Dua bulan sejak kedatangan fia dirumah kakeknya. Canda tawa mereka tidak memudar. Kebahagiaan itu masih bisa dilihat bahkan dari kejauhan. Namun bila semakin didekati, semakin dilihat dari dekat, yang terlihat hanyalah kesedihan dan kekakuan saja. Dan tanpa ada seorang pun yang tahu, hari ini, semua itu akan berubah.

         Fia masih menyandarkan tubuhnya di bangku teras itu. Berharap bisa berkeliling dunia seperti impiannya dulu. Berharap dunia ini bukanlah tempat yang sepi dan penuh dengan kesendirian yang menyesak. Fia masih memandangi lampu jalanan di depan pekarangan kakeknya, saat sebuah mobil berhenti dan seorang pemuda turun dari mobil itu.

Terlihat pemuda itu bercakap-cakap dengan penjual jajan keliling yang sering mangkal di depan rumah kakek Fia. Namun

         Fia tidak mengenal lelaki itu. Bias lampu jalanan itu terlalu redup untuk menyinari wajah sang pemuda itu.

Lalu tiba-tiba pemuda itu berlari menuju rumah kakek Fia. Dan Fia hanya bisa sedikit menegakkan badannya yang lemah. Fia penasaran siapa lelaki ini. Derap langkah lelaki itu semakin mendekat, dan akhirnya lampu teras rumah menyinari wajah lelaki itu. Fia bingung, Dia seperti mengenal wajah itu.

         “ketemu…” kata pemuda itu, sambil tersenyum. Senyum itu membuat Fia hampir terjatuh.

         “Gian…” kata Fia terkejut. Perasaan yang dirasakan olehnya sangat sulit untuk di ceritakan.

         Gian berjalan mendekat, lalu memeluk Fia. Tubuh mereka berdua gemetar. Seolah listrik statis yang kecil telah mengaliri mereka berdua. Emosi yang meluap dari tubuh yang tak mampu  menahannya. Ingin keduanya saling berteriak bahagia, namun setetes airmata sudah cukup menenangkan mereka.

         “ke…kenapa…?” tanya Fia. Dirinya telah tenggelam dalam tangis dan bahagia.

         “karena…” jawab gian dengan gaya mengejeknya yang khas. Fia memukul bahu Gian, pelan.

         “aku…pikir…kita sendirian di dunia ini…gian…” kata Fia.

         “apa yang membuatmu berpikir begitu?” tanya gian pelan.

         “bukankah. kita lahir sebagai jiwa yang terpisah dari jiwa yang lain, kita hidup masih terpisah, lalu saat ajal menjemput juga tetap sendirian. Tapi…”

         “tapi..?” sela Gian.

         “tapi entah mengapa, saat ini aku kesendirian itu hilang. Apa kau merasakannya?” tanya Fia lemah.

         “tidak” jawab Gian.

         “eh?” Fia kaget.

         “aku kesini ingin hanya ingin membayar janji, dan menagih hutang. Kau pikir aku masih suka padamu?” kata Gian tampak serius. Fia bengong sesaat. Lalu gian mengedipkan sebelah matanya. Mereka berdua lalu tertawa kecil.

         “gadis pembohongku… Apapun yang telah dan akan terjadi jangan kau hiraukan. Saat ini, detik ini, aku disini.” Gian menatap dalam mata Fia. “maukah kau menjadi pendampingku hingga akhir nanti?” tanya Gian seraya memegan kedua tangan Fia yang dingin.

         “tidak” jawab fia lalu matanya mengedip.

         “kau ini…” kata Gian dengan nada manja. Kemudian gian mendekatkan wajahnya mendekati wajah fia. Fia memejamkan matanya. Gian memberikan ciuman di kening fia, pelan dan singkat. Namun momen yang sebentar itu, telah membuat kakek dan nenek fia yang dari tadi mencuri dengar, saling berpelukan dan menangis.

         Mungkin di dunia ini mereka tidak bisa mengabadikan momen bahagia itu. Namun mereka percaya, Tuhan memiliki cara yang lain untuk membuatnya abadi. Setidaknya saat ini mereka tidak sendirian di dunia ini.

TAMAT


Sumber : Kumpulan Cerpen dan Puisi (Facebook)
Edited by : www.faktakita.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar