Rabu, 04 Januari 2012

Kita Sendirian di Dunia ini (Bagian Pertama)

  Para penumpang bus ini memandangi Gian sinis. Mereka seolah ingin mengatai Gian bahwa jangan merokok di dalam angkutan umum seperti ini. Tapi semua diam, tidak ada yang berani. Gian seperti seorang preman yang tidak stabil, memakai kaos putih tipis, dan celana jeans yang robek-robek. Dilihat dari manapun, tidak ada yang menyangka bahwa pemuda ini sedang menuju kampusnya, untuk kuliah.

        Gian mengambil langkah panjang saat turun dari bus itu. Kemudian dia melewati beberapa toko bunga yang berada di sebelah kampusnya itu. Penjaga toko itu sempat memanggil Gian, tapi headset yang terpasang sejak tadi membuat Gian tidak mendengar panggilan itu.


        Dengan tergesa-gesa dia menuju kelas yang sama sekali bukan kelasnya. Gian masuk kelas itu tanpa permisi, semua mata tertuju padanya. Dosen wanita yang sedang mengajar itu meneriaki gian, tapi dia tidak peduli. Gian tetap berjalan menghampiri seorang gadis berkerudung yang berada paling belakang kelas, wajah gadis itu sudah terlihat pucat.

        Gian berdiri sesaat di samping Fia, gadis berkerudung yang dari tadi ingin ditemuinya. Wajah-wajah semua orang di dalam ruangan itu tegang. Semua menunggu apa yang akan terjadi. Fia mulai merasa tidak nyaman dengan keaadan itu. Dia ingin memarahi Gian, tapi gian yang ada dihadapannya bukanlah gian “si tampang culun itu”. Fia hanya bisa diam.

        “fia, ayo pergi bersamaku” kata Gian santai.

        “apa??. kau mau membuatku malu?” tanya Fia, yang ingin sekali marah.

        “melihatku mengacaukan kelasmu lebih dari ini, itu yang lebih memalukan.” Tantang Gian.

        “Baik, Oke, ya tuhan, Apa maumu!” fia segera berdiri. Seisi kelas masih memandang mereka berdua. Dosen wanita itu pun amarahnya memuncak dan mendekati Gian. Tapi lalu gian memandang balik mereka semua dengan pandangan dingin. Bahkan gian menatap dosen wanita itu dengan garang.

        “kumohon ibu, saat ini mood-ku sedang jelek.” Kata gian dingin.

        “kurang ajar KAU…” dosen wanita itu semakin mendekat.

        “apapun yang ibu lakukan, tidak akan menghentikan aku. Jadi…” Gian menundukkan kepalanya sesaat, lalu berteriak kencang kearah dosen itu.

“JANGAN HALANGI JALANKU, JALANG…” suara itu menggema. Dosen wanita itu ambruk tanpa disentuh. Beliau hanya bisa terduduk gemetar dilantai melihat Gian membawa Fia pergi dari ruangan itu. Semua wajah yang memandang mereka tadi berubah ciut. Benarkah lelaki ini Regian Tartawijaya? Tanya mereka semua.

                      ***

        Taman itu terletak hanya beberapa ratus meter dari kampus kecil Gian dan Fia. Taman itu rindang karena pohon-pohon besar namun juga bising karena lalu lalang kendaraan yang tidak pernah berhenti. Gian mengikuti fia dari belakang, sejujurnya gian tak menyangka jika fia akan mau diajak keluar kelas itu. Langkah cepat fia terhenti dia berbalik kearah gian, lalu sebuah tamparan keras mendarat di pipi Gian.

       Kemudian  Fia memakinya tanpa henti, amarah fia benar-benar tak bisa lagi dibendung. Namun fia akhirnya berhenti, dia benar-benar bingung dengan apa yang dilihatnya. Gian tersenyum.

       “sudah selesai marahnya?” kata gian dengan tawa kecil.

       “AKU BENCI KAMU…” Fia melanjutkan marahnya dengan berkata-kasar lagi tanpa henti. Gian kembali memasang senyum itu. “baiklah, APA MAU MU, yan?”

       “hmph…marahlah terlebih dulu…” kata gian bercanda.

       “aku pergi kalau begitu…” kata fia sambil berjalan lagi ke arah kampusnya. Gian menghalanginya.

       “Fia, aku mau membawamu pergi kemanapun kau mau…” kata gian serius.

       “APA ITU?, APA YANG KAU PIKIRKAN?” kata fia.

       “fia, katamu aku terlalu culun dan terlalu baik…sekarang semua sudah berbeda..da,..”kalimat gian disela fia.

       “berubah apanya? Kau itu masih tetap culun yang pura-pura menjadi preman. Kau itu kurang pergaulan. Makanya tak bisa bersikap normal di dekatku. Lalu katamu ingin mengajakku kemanapun aku mau?, kau pikir kau itu siapa? ” nafas fia tersengal, dia begitu emosi.

       Dada gian terasa remuk. Fia benar-benar selalu seperti ini. Tapi sudah tiga tahun Gian mengenal Fia, dia tahu semua tentang fia. Bahkan sebuah fakta bahwa fia itu selalu berbohong. Karena itu Gian berdiri tegap dan mendekatkan dirinya pada Fia.

       “aku ini seorang Tartawijaya… seorang pemuda dari keluarga yang memiliki nama bangsawan.” Kata gian menatap serius mata fia.

       “lalu? Apa hubungannya?”kata fia sedikit bergetar.

       “aku tahu beberapa hal yang orang lain tidak tahu tentangmu fia…” kata gian mencoba menahan diri.

       “Apa? Apa? Kenyataan bahwa kau sudah aku tolak beberapa kali?” kata fia ketus.

       “hentikan fi..” gian memegang bahu fia. “bukankah setiap kali kau berbohong, kau semakin menyakiti dirimu sendiri?”. Mereka berdua diam sesaat.

       “Fia, aku tahu bahwa kau selalu menangis di kamarmu, setiap kali kau mengejek atau menolakku. Lalu tentang dirimu yang selalu bercerita tentangku pada sahabatmu... kemarin aku sudah mendengar semuanya fi…dan..” gian terhenti. Wajah fia memerah.

       “dan…tentang alasan, mengapa kau selalu menjadi pembohong. Aku telah mengetahuinya pagi ini…” gian mengatakan kalimat terakhir ini gemetar. Mata gian mulai berkaca-kaca. Fia menundukkan kepalanya.

       “fia… mengapa kau seperti itu…mengapa?” gian menahan sesak itu.

       “Kau tahu tentang itu…” Fia berkata pelan.

       “ya…” jawab gian.

       “cerita tentang aku sakit, bukan?” tanya fia.

       “ya..”

       “itu juga bohong…bodoh…” kata fia mencoba melucu. Gian menghembus nafas panjang. Dia menatap pepohonan yang rindang, sekuat diri mencoba agar tidak menangis.

       “bukankah tadi sudah kubilang hentikan bohongmu fia…” kata gian.

       “Bohong?, kau ini…” fia mencoba tertawa.

       “fia, dokter yang memberikanmu kemoterapi adalah sahabat ayahku. di balik jilbabmu bukankah kau tidak memiliki rambut sehelaipun?, ingin berbohong sampai kapan fia?” gian meneteskan bulir airmatanya.

       Mereka berdua kemudian membisu ditengah bising kendaraan yang lalu lalang. Sejenak gian menunggu fia untuk berkata sesuatu. Tapi fia memilih diam dan menundukkan kepalanya.

       “baiklah, besok, kita akan minta izin pada orang tuamu di kampung halaman. Bukankah menyenangkan bisa berkeliling dunia berdua?” gian mengharapkan fia melihat kearahnya, tapi fia menatap kearah lain. Gian melambaikan tangannya lalu pergi kearah lain.

        Langkah-langkah kaki gian, mungkinkah langkah kaki yang akan disesalinya suatu hari nanti. Namun berada disitu, bersama gadis yang tidak bisa berbicara jujur terlalu menyakitkan.
 Mengapa ada gadis yang isi hati dan ucapanya tak bisa sejalan?,
       mengapa pula ada pemuda konyol yang menginginkan cinta dari gadis sekarat?.
       Mengapa keduanya saling menangisi di sore yang sejuk ini?.
       Bukankah hati mereka sudah saling melengkapi?

***

       Sebelum malam tiba, Gian sudah sampai di rumahnya. Baru saja memasuki rumahnya, handphone-nya menerima sebuah pesan singkat. Dengan enggan, Gian membaca sms itu. Kemudian semangat kembali meletup dan senyum Gian kembali cerah.

       “besok, pukul 4 sore, aku tunggu di bandara. Kita akan menggunakan pesawat terakhir hari itu. Temani aku pulang ke kampung halamanku. –Kelfia”  begitulah bunyi pesan singkat dari fia.


(bersambung) >> Bagian 2


Sumber : Kumpulan Cerpen dan Puisi (Facebook)
Edited by : www.faktakita.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar